Bangil, 6 Maret 2026 — STAI Salafiyah Bangil kembali menyemarakkan Ramadan 1447 H melalui rangkaian kegiatan akademik, spiritual, dan sosial yang melibatkan mahasiswa serta civitas akademika dalam kolaborasi erat dengan lingkungan pesantren. Kegiatan yang berlangsung sejak 1–15 Ramadan 1447 H (19 Februari – 5 Maret 2026) ini tidak hanya dilaksanakan secara langsung di lingkungan kampus dan pesantren, tetapi juga disiarkan secara live melalui ruang digital sehingga dapat diikuti oleh masyarakat luas dan berbagai mitra eksternal.

Program Ramadan tahun ini dirancang sebagai program pembinaan mahasiswa berbasis pesantren yang mengintegrasikan tradisi keilmuan Islam dengan aktivitas akademik kampus. Mahasiswa menjadi aktor utama dalam pelaksanaan kegiatan, mulai dari pengelolaan kajian ilmiah, kegiatan sosial, hingga pengelolaan siaran digital yang memungkinkan masyarakat ikut merasakan atmosfer Ramadan di lingkungan STAI Salafiyah Bangil.

Rangkaian kegiatan dilakukan dengan shalat berjamaah yang dilanjutkan dengan wirid bersama. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembinaan spiritual mahasiswa sekaligus membangun kedisiplinan ibadah di lingkungan kampus yang bernafaskan pesantren. Mahasiswa, dosen, serta keluarga pengasuh pesantren turut terlibat dalam menjaga ritme ibadah Ramadan sehingga tercipta suasana religius yang hidup dan penuh kekhusyukan. Atmosfer ini menjadi bagian dari proses pembentukan karakter mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga kuat secara spiritual.

Selain kegiatan ibadah, Ramadan di STAI Salafiyah Bangil juga diisi dengan kajian keilmuan Islam yang membahas berbagai kitab klasik dan tema-tema kontemporer. Materi kajian meliputi tasawuf, ilmu hadits, hikmah para ulama salaf, hingga pembahasan tentang parenting dalam perspektif Islam. Kajian ini memiliki relevansi khusus dengan visi kampus sebagai perguruan tinggi berbasis pesantren, yang menyiapkan mahasiswa tidak hanya sebagai intelektual, tetapi juga sebagai calon pendidik dan pembangun keluarga yang berperan dalam pembentukan peradaban. Melalui forum kajian tersebut, mahasiswa memperoleh pemahaman tentang pentingnya integrasi antara ilmu, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial, khususnya dalam peran perempuan sebagai agen perubahan di masyarakat.

Sebagai bagian dari pengembangan literasi digital, beberapa sesi kajian dan kegiatan Ramadan disiarkan secara live streaming melalui platform digital. Kehadiran kegiatan di ruang digital ini memungkinkan masyarakat luas dan mitra eksternal untuk ikut mengikuti kajian dan aktivitas Ramadan yang diselenggarakan oleh mahasiswa. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya STAI Salafiyah Bangil untuk menghadirkan tradisi keilmuan pesantren ke ruang publik digital, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Kegiatan Ramadan juga diwarnai dengan berbagai aktivitas sosial yang melibatkan mahasiswa secara langsung. Salah satunya adalah kerja bakti yang dilaksanakan secara berkala untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan. Selain itu, agenda buka puasa bersama menjadi momentum mempererat ukhuwah di antara mahasiswa dan civitas akademika. Pembagian kurma dan makanan yang menjadi simbol sederhana namun bermakna dalam membangun kebersamaan dan kepedulian antar mahasiswa.

Rangkaian kegiatan Ramadan ditutup dengan tasyakkur ikhtitam sebagai bentuk syukur atas terselenggaranya seluruh program Ramadan. Acara ini diisi dengan pembacaan Yasin dan tahlil yang dihadiahkan kepada para mushonnif kitab, para pahlawan bangsa, serta para masyayikh yang menjadi bagian dari mata rantai keilmuan Islam. Suasana semakin syahdu dengan lantunan shalawat dari tim hadrah mahasiswa STAI Salafiyah Bangil, yang menambah kekhidmatan acara penutupan.

Dalam sambutannya, Ketua STAI Salafiyah Bangil Gus H. Muhammad Akyas Zubair, Lc., M.Pd., bersama Ketua Yayasan Salafiyah Bangil Ning Hj. Najmah Zahira, S.Pd.I., menyampaikan pesan spiritual sekaligus motivasi kepada para mahasiswa agar terus menjaga tradisi keilmuan pesantren serta menguatkan komitmen pengabdian kepada masyarakat. Beliau menegaskan bahwa kajian Ramadan merupakan tradisi keilmuan yang penting untuk terus dijaga dan dikembangkan sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan intelektual mahasiswa. Tradisi ini tidak hanya menjadi ruang pembelajaran internal pesantren, tetapi juga perlu didiseminasikan secara lebih luas kepada masyarakat.Melalui pemanfaatan ruang digital, nilai-nilai keilmuan yang terkandung dalam kitab kuning, termasuk kekayaan makna dalam tradisi pegon pesantren, diharapkan dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas serta menginspirasi lahirnya sikap sosial yang berakar pada nilai-nilai keislaman dan tradisi keilmuan pesantren.

Seluruh rangkaian kegiatan Ramadan ini terselenggara melalui sinergi antara institusi kampus, pesantren, dan mahasiswa, yang memperlihatkan model integrasi pendidikan tinggi dengan tradisi keilmuan pesantren. Salah satu panitia mahasiswa menyampaikan bahwa kegiatan Ramadan ini menjadi ruang pembelajaran yang menyeluruh. “Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah mahasiswa, tetapi juga melatih kepemimpinan, tanggung jawab sosial, serta kemampuan berkontribusi di ruang publik, termasuk melalui media digital,” ujarnya. Melalui program Ramadan ini, STAI Salafiyah Bangil menegaskan komitmennya untuk terus menjaga tradisi keilmuan pesantren sekaligus menghadirkan pendidikan tinggi yang religius, adaptif, transformatif, dan berdampak luas bagi masyarakat. (Yasmin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *