Pasuruan, 4 September 2025, suasana di Pondok Pesantren Roudlotun Nafi’iyah terasa berbeda. Aula utama yang biasanya dipenuhi rutinitas ngaji, hari itu menjadi tempat berlangsungnya kuliah tamu bertema “Dari Pesantren ke Perguruan Tinggi: Meneguhkan Identitas Keilmuan dan Akhlak.” Para mahasiswa baru, atau yang akrab disebut mahasantri, duduk rapi dengan wajah penuh antusias, siap menyimak wejangan dari narasumber, Munawwaroh Ajhury, M.Pd., Kaprodi MPI STAI Salafiyah Bangil yang juga pernah menempuh jalan panjang sebagai santri.
Di awal penyampaiannya, Munawwaroh mengutip ayat “Qul Hal Yastawil-ladzina ya’lamun walladzina la ya’lamun” menegaskan bahwa sebagai orang berilmu harus meneguhkan identitas yang membuat dia berbeda dengan orang yang tidak berilmu. Ia juga mengajak mahasantri untuk menentukan niat sebagai tolok ukur nilai segala perbuatan. Ia mengingatkan agar kuliah diniatkan untuk hal-hal besar, tidak terbatas pada kepentingan personal, tapi untuk kebermanfaatan seluas-luasnya. Merujuk pada hadis Nabi bahwa setiap orang akan mendapat apa yang diniatkannya. Kuliah bukan sekadar soal ijazah, melainkan jihad zaman ini. “Santri yang berhenti hanya pada pendidikan pesantren akan kehilangan legalitas untuk masuk ke ruang formal dan ruang kebijakan. Padahal, nilai pesantren perlu hadir di tengah publik dan bangsa, bahkan sampai ke kursi kepemimpinan,” ujarnya. Dengan nada hangat ia menekankan, kuliah adalah jalan untuk memperluas manfaat, meneguhkan ilmu, sekaligus menjaga akhlak.
Ia kemudian membawa para mahasantri merenungi tiga cakrawala keilmuan yang harus dikuasai. Pertama adalah Turats (warisan klasik pesantren) berupa kitab kuning, sanad, dan tradisi batsul mas’il. Kedua adalah al Hadatsah (modernitas) dengan metodologi riset, manajemen organisasi, hingga teknologi digital. Dan ketiga, Ma ba’da al-hadatsah (post modernitas) yaitu kesadaran baru di era postmodern, dengan hadir sebagai duta dan solusi dari tantangan pluralitas, multikulturalisme, ekologi, digitalisasi, dan entrepreneurship. “Mahasantri bukan hanya mahasiswa atau santri,” tegasnya, “tapi simbol integrasi ilmu (wahdatul ‘ulum) yang menyambung estafet jihad intelektual para ulama.”
Agar perjalanan studi tidak berhenti di tengah jalan, Munawwaroh mengingatkan bahwa “Man asyraqot bidayatuh asyraqot nihayatuh” siapa yang bersinar awalnya, akan bersinar pula akhirnya. Pesan ini ia kaitkan dengan pentingnya membangun kebiasaan baik sejak semester pertama: merencanakan perkuliahan dengan matang, mengorganisasi tugas dengan cerdas, melaksanakan dengan disiplin, dan mengevaluasi hasilnya secara berkala. “Kalau awalnya teratur, akhirnya akan indah,” pesannya.
Namun, ilmu saja tidak cukup tanpa akhlak. Di bagian ini, ia menekankan bahwa kepemimpinan tanpa akhlak hanya akan melahirkan korupsi, dan kepemimpinan tanpa ilmu akan menghasilkan kebijakan yang dzalim. Akhlak adalah akar yang membuat pohon keilmuan kokoh, teduh, sekaligus berbuah. Munawwaroh merinci empat sikap utama yang harus dijaga dan disingkatnya dalam kata TATASAMAH. Pertama, TAat: pada aturan agama, pesantren, dan akademik. Kedua, TAwadhu’: rendah hati dan tidak merasa paling hebat. Kesombongan menutup ruang koreksi sehingga seseorang akan susah berkembang dan stuck karena sudah puas dengan capaiannya. Ketiga SAbar: sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam menghadapi ujian, dan sabar menjauhi maksiat.
Keempat, istiqoMAH: konsisten dalam ibadah, belajar, dan pilihan hidup. Kenapa dikatakan “Istiqomah itu lebih baik dari seribu karamah”, karena hal yang dilakukan secara konsisten akan membentuk keahlian dan melahirkan kebermanfaatan yang berdampak dari sekedar hal yang hanya masyhur dan mencuat namun tidak berkelanjutan.
Ia mengingatkan pula, nama baik yang hilang karena akhlak yang runtuh sulit sekali dipulihkan. “A good name is seldom regained when character is gone, all is gone,” Nama baik adalah hal yang sulit dipulihkan, jika karakter hilang maka semua lenyap, ujarnya.
Dia juga mengutip kitab ‘Idzotun Nasyiin yang dikaji banyak pesantren “Innamal-Umamu al-Akhlaqu Ma Baqiyat wa In Hum Dzahabat Akhlaquhum Dzahabu” jati diri bangsa ada pada akhlaknya, ketika akhlak mereka hilang, maka hilanglah marwah bangsa”. Akhlak harus betul-betul dijaga supaya tidak terjadi Ibtholul-Intifa’ (pembatalan manfaat) dimana masyarakat menolak seseorang karena dinilai buruk akhlaknya meskipun dia berilmu tinggi dan memiliki banyak kontribusi. Seperti istilah “boikot” atau “jangan kasih panggung” yang kerap diserukan masyarakat ketika kecewa dengan tokoh publik.
Suasana menjadi hidup ketika sesi tanya jawab dibuka. Seorang mahasantri bertanya bagaimana menjaga semangat kuliah agar tidak padam di tengah jalan. Munawwaroh menjawab dengan tegas, “Kuncinya self mastery, kemampuan mengontrol diri dengan disiplin yang tinggi. Belajar menahan ketidaknyamanan hari ini demi kemenangan yang lebih dalam, lebih luas dan lebih bermakna di masa depan.” Pertanyaan lain muncul tentang bagaimana menyiapkan karier di tengah banyaknya sarjana menganggur. Ia menekankan pentingnya membangun jejaring, berorganisasi, serta memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan diri dan karya. Ada pula yang bertanya tentang membagi waktu antara kuliah, bekerja, dan ngaji.
Dengan tenang ia menasihati agar mahasantri memahami program kuliah sejak awal, mengatur prioritas, menjaga kerja kelompok tetap solid, dan selalu mengkomunikasikan kendala dengan dosen. Terakhir, ketika ditanya bagaimana menjadi pendidik profesional, ia menyebut empat kompetensi yang wajib dimiliki: personal, sosial, pedagogik, dan profesional. Bagi calon pendidik perlu menjadi personal yang baik dengan menjauhi hal-hal yang sifatnya amoral dan mengurangi marwah, serta menjalin hubungan sosial yang baik dengan berbagai kalangan. Sedangkan untuk kompetensi paedagogik dan profesional, bisa ia dapatkan dalam perkuliahan dan juga harus diperkuat dengan meningkatkan minat dan daya baca.
Bertindak sebagai moderator, Ubaid Aisyul Hana, M.E Kaprodi ES STAI al Akbar Surabaya juga mengajukan pertanyaan penting: bagaimana dengan mahasiswa yang bukan berlatar belakang pesantren dan masih pemula dalam turāts? Narasumber menjelaskan bahwa mereka tidak perlu minder, karena dapat bergabung dengan teman-teman santri, belajar bersama, dan ikut serta dalam kegiatan mengaji di pondok. Selain itu, perguruan tinggi Islam umumnya juga menyediakan mata kuliah dasar yang memperkenalkan materi turāts, sehingga mahasiswa pemula tetap bisa mengakses dan mempelajari warisan intelektual Islam secara bertahap.
Menutup kuliahnya, Munawwaroh mengilustrasikan keilmuan dan akhlak mahasantri sebagai pohon yang disebut dalam al Qur’an “Ashluha Tsabit wa Far’uha fis Sama’” (akarnya kuat menghujam dan cabangnya tinngi menjulang. Akar kuatnya adalah turats dan akhlak pesantren. Batang tegaknya adalah metodologi akademik modern. Dan buahnya adalah ilmu, amal, serta kepemimpinan yang memberi manfaat luas bagi umat. Ia menegaskan sekali lagi, kuliah bagi santri adalah jihad intelektual zaman ini. Jalan untuk membesarkan pesantren, memberdayakan masyarakat, dan menjaga marwah bangsa dengan ilmu dan akhlak.
